
Manusia diciptakan Allah dengan segala kekurangan, kelebihan, keterbatasan dan kemampuan. Maka dari itu, janganlah kita merasa sombong atau pun angkuh dengan segala kelebihan yang diberikan, tapi jangan pula merasa rendah diri, atau frustasi dengan segala kekurangan yang ada.
Kadang kita sering salah menilai orang, terutama kepada anak yang pendiam, jarang bicara, kurang aktif, sehingga langsung saja memvonis ”Dasar Anak Bodoh!” seperti hakim kepada terdakwa yang terbukti bersalah. Padalah menurut pakar pendidikan dari Universitas Negeri Surabaya, Yatim Riyanto, tidak ada istilah “anak itu bodoh” karena setiap anak mempunyai kecerdasan masing-masing. Kecerdasan itu meliputi, linguistik, matematis-logis, spasial, kinestetis, musikal, intrapersonal dan naturalis.
Jadi sebenarnya, setiap anak akan memiliki “minimal satu kecerdasan”. Nah dari yang satu poin itu perlu kita gali dan kembangkan potensi yang ada pada diri kita. Kita sering tidak menyadari kalau kita sebetulnya mempunyai potensi besar. Karena sering kali kita lebih menonjolkan rasa enggan, malu, tidak percaya diri, yang selalu datang untuk memulainya maka potensi yang kita miliki itu tidak tampak.
Potensi bisa disebut sebagai kekuatan, kemampuan yang ada di dalam diri. Itu memegang peranan penting dalam keberhasilan setiap orang. Potensi itu dapat dikembangkan seoptimal mungkin, antara lain dengan mengenal diri sendiri. Misalnya:
- Bertanya pada diri sendiri: “Siapakah saya ini?”, “Apa yang dapat saya lakukan?”, “Mau jadi apa saya nanti?” dsb.
- Catatlah prestasi apa saja yang pernah diperoleh, walau sekecil apa pun.
- Tentukan apa yang dapat dilakukan saat ini.
- Nikmati perjalanan diri, walau terasa pahit.
- Menguraikannya dalam buku harian ( diary)
Bertanya pada diri sendiri itu lebih baik, karena kita akan semakin dini mengenal diri, dan akan lebih cepat bertindak serta mengubah sikap dan mengarahkan diri sesuai dengan minat dan bakat yang kita miliki. Kembangkan prestasi yang pernah diraih, tekuni dengan semangat, hindari keputusasaan, dan yang utama dalam mengembangkan potensi diri jangan terlalu mengandalkan orang lain. Lakukan apa yang dapat dilakukan, sekecil apapun yang dilakukan itu adalah prestasi.
Nikmati perjalanan diri dengan penuh kesungguhan, membukalah diri untuk orang lain yang ada di sekitar kita, dan melakukan banyak hal yang sekiranya kita mampu menanganinya, “ try and try again” walau harus berkali-kali (ingat Thomas Alva Edison seorang ilmuwan, baru berhasil membuat lampu pijar setelah 1500 kali percobaan), jadi kita pun akan bisa melakukan sesuatu hal, asal penuh kesabaran dan ketekunan walaupun agak lama terselesaikan. Berarti sebetulnya kita “ada bakat”, yang penting segala sesuatu dilakukan dengan enjoy.
Seandainya semua yang dilakukan tidak berhasil, maka cara terakhir cobalah tuangkan dalam bentuk tulisan apa yang ada dalam pikiran kita, tulis dalam sebuah buku harian, karena niscaya yang dituangkan bukanlah omong kosong. Itu semua merupakan ekspresi diri kita. Semakin sering menuangkan isi hati, maka semakin mudah untuk mengetahui kemampuan diri, dan akhirnya akan muncul potensi yang kita miliki, dan tentunya akan semakin mudah untuk mengembangkan potensi tersebut.
*) Mimin Suminar adalah guru IPA Sekolah Indonesia Moskow