
Rasa kecewa menyelimuti diri saya saat pertama kali melihat dan memasuki Sekolah Indonesia Moskow (SIM). Apalagi pada waktu itu saya adalah seorang pindahan dari salah satu sekolah favorit di Jakrta Selatan. Memang, kalau menjadi murid baru, segala sesuatunya terasa tidak nyaman. Tapi, kali ini ketidaknyamanan saya benar-benar memuncak. Sekolahnya kecil, muridnya sedikit, teman sekelas hanya satu. Intinya, bulan Februari 2004 itu terasa kering dan kaku. Persis seperti suasana kota Moskow.
Sekarang, saya sudah 3 SMA. Saya mulai berkilas balik ke masa-masa 2 SMP, dimana saya masih menjadi murid baru di SIM. Kalau mau jujur, saya merasa “geli” dengan kesan pertama saya terhadap SIM. Justru dengan keberadaan SIM, saya memperoleh hal-hal yang akan terus saya abadikan dalam hidup saya.
Saya ingat sekali saat saya pertama kali melihat teman-teman SIM mementaskan sebuah tarian dan permainan musik tradisional Indonesia. Perasaan saya begitu kagum dan heran. “Begitu, toh kalau sekolah di SIM,” pikir saya waktu itu. Awalnya, saya merasa minder dengan kegiatan-kegiatan kesenian tersebut. Tapi, kalau tidak dicoba maka tidak akan terbiasa, jadi mau tidak mau harus dijalani. Alhasil, lama-kelamaan rasa kerterpaksaan itu hilang, sehingga kalau SIM mendapat “pesanan” untuk pentas gamelan, kolintang, atau tari-tarian daerah, saya selalu menjalaninya dengan senang hati.
Dulu, bagi saya Matematika adalah pelajaran yang paling mengesalkan, karena saya tidak pernah memahami secara penuh materi-materi yang terkandung di dalamnya. Namun, sejak di SIM, pelajaran penuh angka dan rumus itu bukan lagi sebuah malapetaka. Berhubung selama di SIM saya selalu mempunyai satu teman sekelas, maka perhatian guru pasti akan terfokus kepada kami berdua. Kalau misalnya kami tidak mengerti, guru pasti akan menyadari hal itu, jadi tidak ada alasan bagi kami untuk pura-pura mengerti.
Di SIM, peluang untuk menjadi seorang siswa yang aktif juga besar. Terbukti dengan keterlibatan seluruh siswa saat pelaksanaan kegiatan-kegiatan sekolah. Dimulai dari upacara hari Senin, penyusunan majalah dan buletin sekolah, pelaksanaan Organisasi Siswa Intra Sekolah (SIM), pementasan seni, dan berbagai macam hal lainnya. Selama di Indonesia, boro-boro saya menjadi petugas upacara. Paling banter, ya ikut paduan suara upacara saja. Tapi, sejak di SIM, saya sudah merasakan tiap-tiap bagian dari susunan petugas upacara. Saya juga pernah berangan-angan untuk bisa bergabung dalam sebuah band, karena saya tertarik sekali dengan dunia musik. Di Indonesia, saya memiliki banyak saingan, sehingga saya memutuskan untuk mengurungkan mimpi saya itu. Tapi, lagi-lagi karena SIM, angan-angan saya itu terwujud. Sampai sekarang, band SIM masih aktif walaupun sering mengalami pergantian personil berhubung masa belajar tiap-tiap siswa yang berbeda.
Peristiwa yang bagi saya juga akan selalu terkenang adalah keikutsertaan saya dalam Lomba Kreativitas Siswa Antarsekolah Indonesia di Luar Negeri, yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand. Siapa yang menyangka saya akan mewakili SIM dalam Lomba Pidato bahasa Inggris Tingkat SMA dan meraih Juara I?
Dengan bantuan SIM, saya merasa bahwa segala potensi dalam diri saya berhasil diolah dan dimaksimalkan. Saya juga merasa lebih terbuka, apalagi dengan adanya interaksi yang kuat antarsiswa dari berbagai jenjang, serta adanya hubungan yang fleksibel antara guru dengan siswa. Jarang-jarang, kan ada guru yang bercerita tentang urusan sekolah kepada siswanya?
SIM mengajarkan kepada saya apa sesungguhnya makna duta bangsa itu. Kecintaan saya terhadap Indonesia juga tetap terjaga dan bahkan ditingkatkan. Kesenioritasan juga ditiadakan. Hal ini amat sesuai dengan suasana sekolah yang saya idamkan.
Sebenarnya masih banyak hal lain yang berkesan dari SIM, sehingga dengan menulis esai seperti ini tidak akan cukup untuk mengulas SIM secara keseluruhan. Yang jelas, walaupun SIM bukan sekolah yang megah, SIM tidak bisa dianggap remeh. Karena, SIM telah berhasil mengubah pribadi siswa-siswanya; termasuk saya.
TERUS BERJAYALAH, SIM!
*) Rukita Wustari Widodo adalah Alumni SIM lulus Tahun 2008 dan kini Mahasiswa S1 FISIP Universitas Indonesia